Sejarah

Sejarah Badan Keahlian Teknik Industri – Persatuan Insinyur Indonesia

Badan Keahlian Teknik Industri – Persatuan Insinyur Indonesia (BKTI–PII) berdiri pada momentum bersejarah Konvensi Nasional Pertama yang digelar pada 28 Juni 2012. Pada forum tersebut, lahirlah Badan Keahlian Teknik Industri – Persatuan Insinyur Indonesia (BKTI–PII) sebagai wadah resmi yang menaungi para insinyur teknik industri di seluruh Indonesia. Kehadiran BKTI–PII menandai langkah maju profesi teknik industri untuk memiliki rumah bersama yang terstruktur, memiliki visi yang jelas, serta berlandaskan profesionalisme keinsinyuran di bawah payung besar Persatuan Insinyur Indonesia.

Sejak awal berdirinya, BKTI–PII dijalankan secara kolektif oleh Dewan Pendiri, yang mengemban amanah berdasarkan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Persatuan Insinyur Indonesia (AD/ART PII). Para pendiri menyadari bahwa tantangan dunia industri yang semakin kompleks—baik dalam bidang manufaktur, logistik, rantai pasok, maupun transformasi digital—membutuhkan wadah yang mampu menyatukan pemikiran, riset, serta kontribusi nyata dari para insinyur teknik industri di Indonesia.

Susunan Dewan Pendiri BKTI–PII :

  1. Prof. Dr. H. Matthias Aroef, MSIE, IPM
  2. Prof. Dr. Ir. Kuntoro Mangkusubroto, M.Eng.
  3. Prof. Ir. H. Surna Tjahja Djajadiningrat
  4. Prof. Dr. Ir. Anang Zaini Gani, MSIE
  5. Prof. Ir. Harsono Taroepratjeka, MSIE, Ph.D
  6. Prof. Dr. Ir. H. Senator Nur Bahagia, DEA
  7. Prof. Dr. Ir. Abdul Hakim Halim, M.Sc.
  8. Dr. Ir. Tjokorde Made Agung Ari Samadhi, MEngSc., Ph.D.
  9. Ir. Rully Chairul Azwar, M.Si.
  10. Ir. Syahril Anwar
  11. Prof. Dr. Ir. Ida I Dewa Gede Raka, MEIE
  12. Prof. Dr. Ir. F.X. Mardi Hartanto
  13. Ir. Indracahya Kusumasubrata, IPU
  14. Dr. Ir. Tiena Gustina Amran, Ph.D., IPU, ASEAN Eng.
  15. Ir. Bakti Santoso Luddin, MBA
  16. Ir. Mathiyas Thaib, MEB, PCME
  17. Ir. Tosin Suharya
  18. Ir. Rudanto
  19. Ir. Prihadi Waluyo, MM
  20. Dr. Ir. Lukita Dinarsyah Tuwo, M.A.
  21. Prof. Dr. Ir. Teuku Yuri M. Zagloel, M.Eng.Sc.
  22. Dr. Ir. Docki Saraswati, M.Eng.
  23. Prof. Ir. I Nyoman Pujawan, M.Eng., Ph.D., CSCP
  24. Ir. Herry Sutisna
  25. Ir. Bambang Setiawaan
  26. Ir. Gunawarman Hartono
  27. Prof. Dr. Ir. Iftikar Sutalaksana
  28. Ir. Drajad Irianto
  29. Ir. Adirizal
  30. Ir. I Made Dana M. Tangkas, M.Si., IPU., ASEAN Eng.
  31. Ir. Faizal Safa, ST., M.Sc., IPU, ASEAN Eng., ACPE
  32. Ir. Dwi Larso

Ketua Badan Keahlian Teknik Industri - Persatuan Insinyur Indonesia (PII) dari Masa ke Masa

Ir. Indracahya Kusumasubrata

2012–2018

Ir. I Made Dana Tangkas

2018–2021

Ir. Faizal Safa

2021–2024

Ir. Wiza Hidayat

2024–2027

Sejarah Persatuan Insinyur Indonesia

Persatuan Insinyur Indonesia (PII) resmi berdiri pada 23 Juni 1952 di Bandung, bertepatan dengan penyelenggaraan Kongres Insinyur Indonesia pertama. Organisasi ini didirikan oleh sejumlah tokoh insinyur Indonesia, antara lain Ir. Rooseno Soerjohadikoesoemo (yang dikenal sebagai Bapak Beton Indonesia), Ir. Djuanda Kartawidjaja (Perdana Menteri Republik Indonesia 1957–1959), serta para insinyur bangsa lainnya yang memiliki semangat untuk berkontribusi pada pembangunan nasional pasca-kemerdekaan.

Lahirnya PII dilatarbelakangi oleh kebutuhan mendesak akan tenaga ahli teknik yang dapat membantu pembangunan infrastruktur, industri, serta sektor strategis bangsa. Para pendiri menyadari pentingnya sebuah wadah kebersamaan yang tidak hanya memperjuangkan eksistensi profesi insinyur, tetapi juga mengabdi untuk kepentingan bangsa dan negara.

Sejak itu, PII berkembang menjadi organisasi profesi insinyur terbesar di Indonesia. PII berperan dalam:

  • Meningkatkan kompetensi dan profesionalisme insinyur,
  • Mengembangkan etika dan kode etik profesi,
  • Menjadi mitra strategis pemerintah, akademisi, dan industri,
  • Mendorong penguasaan teknologi untuk kemandirian bangsa.

Dengan perjalanan panjang lebih dari tujuh dekade, PII kini semakin diperkuat melalui implementasi Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2014 tentang Keinsinyuran, yang menegaskan pentingnya sertifikasi insinyur profesional sebagai standar kompetensi nasional dan internasional.

Profil Ir. H. Raden Djuanda Kartawidjaja

Ir. H. Raden Djuanda Kartawidjaja (14 Januari 1911 – 7 November 1963) adalah seorang insinyur, birokrat, dan negarawan Indonesia. Lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat, Djuanda menempuh pendidikan teknik di Technische Hoogeschool te Bandoeng (sekarang ITB) dan lulus sebagai insinyur sipil pada tahun 1933.

Beliau dikenal sebagai tokoh yang memiliki integritas tinggi, sederhana, serta berdedikasi penuh untuk bangsa. Kariernya berawal sebagai pengajar, lalu berkembang menjadi birokrat dan pejabat tinggi negara. Djuanda dipercaya memegang berbagai jabatan penting, termasuk Menteri Perhubungan, Menteri Keuangan, Menteri Pertahanan, hingga menjabat sebagai Perdana Menteri Republik Indonesia terakhir (1957–1959).

Salah satu warisan monumental beliau adalah Deklarasi Djuanda (13 Desember 1957), yang menegaskan kedaulatan Indonesia atas laut di antara pulau-pulau nusantara sebagai satu kesatuan wilayah. Deklarasi ini menjadi dasar lahirnya konsep Wawasan Nusantara dan diakui dalam Konvensi Hukum Laut PBB (UNCLOS 1982).

Selain kiprah kenegaraan, Ir. Djuanda juga berperan sebagai salah satu pendiri Persatuan Insinyur Indonesia (PII) pada tahun 1952, menunjukkan dedikasinya dalam membangun kapasitas insinyur nasional untuk mendukung pembangunan Indonesia.

Ir. Djuanda wafat pada 7 November 1963 di Jakarta dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Atas jasa-jasa besarnya, beliau dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia.

Profil Ir. Rooseno Soerjohadikoesoemo

Ir. Rooseno Soerjohadikoesoemo (1908 – 1996) adalah seorang insinyur sipil terkemuka Indonesia yang dikenal luas sebagai “Bapak Beton Indonesia”. Ia menempuh pendidikan di Technische Hoogeschool te Bandoeng (sekarang ITB) dan menjadi salah satu insinyur sipil Indonesia pertama pada masa penjajahan Belanda.

Sepanjang kariernya, Ir. Rooseno berperan penting dalam pembangunan infrastruktur modern Indonesia. Beliau terlibat dalam berbagai proyek besar, termasuk pembangunan Jembatan Semanggi di Jakarta dan berbagai gedung serta fasilitas vital yang menjadi simbol kemajuan bangsa pada masanya. Keahliannya dalam bidang beton menjadikannya pionir dalam penggunaan teknologi beton bertulang di Indonesia.

Selain kiprahnya di dunia teknik sipil, Ir. Rooseno juga berperan aktif dalam organisasi profesi. Ia adalah salah satu pendiri Persatuan Insinyur Indonesia (PII) pada tahun 1952 dan pernah menjabat sebagai Ketua Umum PII, menunjukkan dedikasinya dalam membangun kapasitas insinyur Indonesia untuk mendukung pembangunan nasional.

Ir. Rooseno juga sempat mengemban amanah sebagai Menteri Perhubungan, Menteri Pekerjaan Umum, dan Menteri Perhubungan dan Telekomunikasi pada era Kabinet Ali Sastroamidjojo. Dengan perpaduan keahlian teknis dan kepemimpinan kenegaraan, beliau menjadi teladan insinyur yang mengabdikan ilmu untuk bangsa dan negara.

Atas jasa-jasanya, nama Ir. Rooseno dikenang sebagai tokoh yang menginspirasi generasi insinyur Indonesia dalam membangun negeri dengan ilmu, integritas, dan dedikasi.

Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII) dari Masa ke Masa

Ir. Djuanda Kartawidjaja

1952–1954

Ir. Kaslan Tohir

1954–1959

Ir. Ukar Bratakusuma

1959–1961

Ir. Suratman D.

1965–1969

Dr. Ir. GM. Tampubolon

1969–1984

Ir. Sumantri

1984–1989

Ir. Aburizal Bakrie

1989–1994

Ir. Arifin Panigoro

1994–1999

Ir. Qoyum Tjandranegara

1999–2002

Ir. Pandri Prabono

2002–2004

Ir. Rauf Purnama

2004–2006

Dr. Ir. Airlangga Hartarto

2006–2009

Dr. Ir. Muhammad Said Didu

2009–2012

Ir. Bobby Gafur Umar

2012–2015

Ir. H. Achmad Hermanto Dardak

2015–2018

Dr. Ir. Heru Dewanto

2018–2021

Dr. Ir. Danis Hidayat Sumadilaga

2021–2024

Dr.-Ing. Ir. Ilham Akbar Habibie

2024–2027